Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian

Kamis, 31 Mei 2012

firkah syiah


BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak, Suriah, Lebanon dan termasuk di Indonesia.
Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, dan sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang Muslim.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian syiah ?
2.      Bagaimana sejarah lahirnya syiah ?
3.      Bagaimana pokok pokok ajaran syiah ?
4.      Apa saja sekte-sekte dalam syiah ?
5.      Siapa tokoh-tokoh syiah ?









BAB II
PEMBAHASAN
a.     Pengetian syiah
menurut etimologi istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة  Syī`ah yang artinya berarti , kelompok, atau golongan pembela dan pengikut seseorang. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī شيعي."Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun)[1]Syi'ah bahasa Arab bermakna:. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut
menurut Thabathbai, istilah syiah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut Ali (syi’ah Ali), pemimpin pertama Ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Para pengikut Ali yang disebut syiah itu di antaranya adalah Abu Dzar Al-Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.[1]
terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.

b.    Sejarah lahirnya syiah
Para penulis sejarah islam berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syiah, sebagian menganggap Syiah langsung muncul setelah wafatnya Nabi Muhamad SAW, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshor di balai pertemuan Syakiffah Bani Sa’idah, pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sebagian kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi Ali bin Abi Thalib. Menurut Abu Zahrah Syiah lahir atau mulai muncul pada masa akhir kekhalifahan Ustman bin Affan dan tumbuh berkembang pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.[2] Kalangan syiah sendiri berpendapat bahwa kemunculan  syiah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifa) Nabi SAW. mereka menolak kekhalifaan Abu Bakar, umar bin Khattab, utsman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abu thaliblah yang berhak menggantikan Nabi. Kepimimpinan Ali dalam pandangan syiah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW. Pada masa hidupnya pada awal kenabian, ketika Muhammad SAW di perintahkan berdakwah kepada kerabatnya, yang pertama menerima Adalah Ali bin Abu tholib. Di ceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Selain itu, sepanjang kenabian Muhammad, Ali merupakan orang yang menunjukkan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.[3]
Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan dari Mekah ke Madina, di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khamm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai baliau. Pada peristiwa itu Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum ummat (walyat-i’ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun realitas ternyata berbicara lain.
c.      Syiah itsna asyarih (syiah dua belas / syiah imamiyah)
Dinamakan syiah imamiyah karena yang menjadi dasar aqidahnya adalah persoalan  imam dalam arti pemimpin religoi politik., yakni Ali berhak menjadi khalifa bukan karena kecakapannya atau kemuliaan ahlaknya, tetapi juga karena ia telah di tunjuk nas dan pantas menjadi khalifa pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Ide tentang hak Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatan khalifa telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politik di saqifa Bani Sa’idah.
Syiah itsna asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiyah (penerima wasiat) setelah Ali adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu hasan bin  Ali kemudian Husain bin Ali sebagaiman yang berturut- turut; Muhammad Al-Baqir, Muhammad Al-Jawwad, Ali-Al-hadi, hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas. Demikianlah, karena berbaiat dibawah imamah dua belas imam, mereka dikenal dengan sebutan syi’ah Itsna Asyariyah.


Ajaran pokok itsna asyariyah 
Tauhid ; tuhan adalah esa baik esensi maupun eksisitensi-nya keesaan tuhan adalah mutlak. Ia bereksistensi dengna sendirinya. Tuhan adalah qadim. Maksudnya tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan Waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan Mahatahu, maha mendengar selalu hidup, mengerti semua bahasa, selalu benar dan bebas berkehendak
Keadilan : Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak perna berbuat tidak adil kepada ciptaanya, karena ketidakadilan dan kezoliman terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan ketidak mampuan dan sifat ini jauh dari keabsholutan dan kehendak tuhan.
Nubuwah ; setiap mahluk sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari tuhan maupun dari manusia. Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan tuhan yang secara transenden di utus untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam semesta. Dalam keyakinan syiah itsna asyariyah, tuhan telah mengutus 124000 rasul untuk memberikan petunjuk kepada manusia.
Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan tuhan di akhirat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan tuhan. Mati adalah periode  transit dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat
Imamah adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
d.    Syiah sab’iyah
Istilah syiah sab’iyah di analogikan dengan syiah itsna asyariyah, istilah itu memberikan pengertian bahwa sekte syiah sab’iyah mengakui tujuh imam yaitu Ali, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad Baqir, Ja’far ash-Shadiq, dan isma’il bin ja’far. syiah sab’iyah sering disebut juga syiah Ismailiya.
Berbeda dengan syiah sab’iyah, syiah itsna asyariyah membatalkan Ismail bin ja’far sebagai imam ketujuha karena di samping memiliki kebiasaan tak terpuji juga karena ia wafat mendahului ayahnya, ja’far. Sebagai gantinya adalah Musa Al-Kadzimi, Adik Ismail. Syiah sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan system pengangkatan imam dalam syiah dan menganggap ismail sebagai imam ketujuh dan sepeninggalnya diganti oleh putranya yang tertuah, Muhammad bin ismail.
Ajaran pokok syiah sab’iyah  
Para pengikut syiah sab’iyah percaya bahwa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti di jelaskan oleh Al-Qadhi An-Nu’man dalam doa’aim Al-Islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman, taharah, salat, zakat, saum, haji, dan jihad. Berkaitan dengan pilar (rukun) pertama, yaitu iman, qhadi An-Nu’man merincinya sebagai berikut. Iman adalah Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah; iman kepada surga; iman kepada neraka; iman kepada hari kebangkitan; iman kepada hari pengadilan; iman kepada Nabi dan Rasul; iman kepada imam; percaya, mengetahui, dan membenarkan imam zaman.
Dalam pandangna sab’iyah keimanan hanya dapat di terima bila sesuai dengan keyakinan mereka , yakni dengnan melalui walayah (kesetiaan) kepada imam zaman. Imam adalah seseorang yang menuntun ummatnya kepada pengetahuan. Dengan pengetahuan tersebut , seorang muslim akan menjadi serang mukmin yang sebenar-benarnya.
Syarat-syarat seorang imam dalam pandangan syiah sab’iyah adalah sebagai berikut.
1.      Keturunan Ali dari Fatimah yang dikenal dengan Ahlul Bait
2.      Menurut pengikut mukhtasar Ats-Tsaqafi pemimpin harus dari keturunan Ali melalui pernikahanya dengan wanita dari bani hanifa
3.      Keimaman jatuh pada tertuah.
4.      Imam harus maksum.
5.      Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik
Disamping syarat di atas, syiah sab’iyah berpendapat bahwa seorang imam harus mempunyai pengetahuan (ilmu) dan juga harus mempunyai pengetahuan walayah yaitu ilmu batin dan ilmu lahir.
Kedua, seorang imam harus mempunyai sifat walayah, yaitu kemampuan esoterik untuk menuntun manusia kedalam rahasia-rahasia Tuhan. Doktrin tentang imam menempati posisi sentral dalam Syiah sab’iyah. Kepatuhan dan pengabdian kepada imam dipandang sebagai prinsip dalam menerima ajaran suci imam.
e.      Syiah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan sekte syiah lainnya yang mengakui Muhammad Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam kelima, dari nama Zaid inilah nama zaidiyah di ambil. Syiah Zaidiyah merupakan sekte yang moderat. Abu Zahrah menyatakan bahwa kelompok ini paling dekat dengan sunni.
Ajaran pokok syiah Zaidiyah
Imamah sebagaimana telah disebutkan tadi merupakan doktrin yang fundamental dalam syiah secara umum. Berbedah dengan doktrin imamah yang dikembangkan syiah lain, syiah zaidiyah mengembangkan doktrin imamah yang tipikal. Kaum zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan seorang imam mewarisi kepemimpinan Nabi SAW. Telah ditentukan orangnya oleh nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja.
Selanjutnya, menurut zaidiyah, seorang imam paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, ia merupakan keturunan Ali atau Ahlul bait baik melalui jalur hasan maupun Husain. Hal ini mengimplikasikan penolakan mereka terhadap pewarisan dan nas kepemimpinan. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang. Atas dasar ini, mereka menolak mahdiisme yang merupakan salah satu ciri sekte syiah lainnya . bagi mereka pemimpin yang menegakkan keadilan dan kebenaran adalah Mahdi. Ketiga, memiliki kecenderungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan.
Doktrin syiah lainnya.
Bertolak dari doktrin tentang al-imamah al-mahfud, syiah zaidiyah berpendapat bahwa kekhalifaan AbuBakar, dan Umar bin Khattab adalah sah dari sudut pandang islam. mereka tidak merampas kekuasaan dari tangan Ali bin Abu thalib. Dalam pandangan mereka, jika Ahl al-hall wa al-‘aqad telah memilih seorang imam dari kalangan kaum muslim, meskipun ia tidak memenuhi sifat-sifat keimanan yang ditetapkan oleh zaidiyah dan telah di baiat oleh mereka, keimanannya menjadi sah dan  rakyat wajib berbaiat kepadanya. Prinsip inilah, menurut Abu Zahrah, yang menyebabkan banyak orang keluar dari syiah Zaidiyah. Salah satu implikasinya adalah berkurangnya dukungan terhadap Zaid ketika ia berperang melawan pasukan hisyam bin Abdul Malik.
f.      Syiah Ghulat
Istilah ghulat berasal dari kata ghala-yaghlu-ghuluw artinya bertambah dan naik. Ghala bi ad-din artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Syiah Ghalat adalah kelompok pendukung Ali yang memilik sikap berlebihan atau ekstrim. Lebih jauh, Abu Zahrah menjelaskan bahwa syiah ekstrim adalah kelompok yang menempati Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi daripada Muhammad.
Mengenai jumlah sekte syiah ghulat para mutakallimin berbeda pendapat. Syarastani membagi sekte ghulat menjadi 11 sekte : Al-Ghurabi membaginya menjadi 15 sekte-sekte yang terkenal adalah : sabahiyah, kamaliyah, Albaiyah, Mugriyah, Mansuriyah, khattabiyah, kayaliyah, hisamiyah, nu’miyah, yunusiyah, dan nasyisiyah wa ishaqiyah.
Ajaran pokok syiah ghulat.
.     Al-Badâ’. Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak. Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.
.     Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali. Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi. Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa sebagian manusia akan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk memenuhi selera dan keinginan pemerintah. Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.
Hulul artinya tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, da nada pada setiap individu manusia.
Ghayba artinya menghilangkan imam Mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan syiah bahwa imam Mahdi itu ada dalam negeri ini namun tidak dapat dilihat oleh kasat mata biasa. Konsep ghayba pertama kali diperkenalkan oleh mukhtar Ats-tsaqafi di kufa ketika mempropagandakan Muhammad bin Hanafiyah sebagai Imam Mahdi.
Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan. Perilaku taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu dasar mazhab Syi’ah.
Tokoh-tokoh syiah
Dalam pertimbangan Syi’ah, selain terdapat tokoh-tokoh populer seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin ‘Ali, terdapat pula dua tokoh Ahlulbait yang mempunyai pengaruh dan andil yang besar dalam pengembangan paham Syi’ah, yaitu Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq. Kedua tokoh ini dikenal sebagai orang-orang besar pada zamannya. Pemikiran Ja’far al-Shadiq bahkan dianggap sebagai cikal bakal ilmu fiqh dan ushul fiqh, karena keempat tokoh utama fiqh Islam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, secara langsung atau tidak langsung pernah menimba ilmu darinya. Oleh karena itu, tidak heran bila kemudian Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas al-Azhar, Mesir, mengeluarkan fatwa yang kontroversial di kalangan pengikut Sunnah (Ahlussunnah.). Mahmud Syaltut memfatwakan bolehnya setiap orang menganut fiqh Zaidi atau fiqh Ja’fari Itsna ‘Asyariyah.
Adapun Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin terkenal ahli di bidang tafsir dan fiqh. Pada usia yang relatif muda, Zaid bin ‘Ali telah dikenal sebagai salah seorang tokoh Ahlulbait yang menonjol. Salah satu karya yang ia hasilkan adalah kitab al-Majmû’ (Himpunan/Kumpulan) dalam bidang fiqh. Juga karya lainnya mengenai tafsir, fiqh, imamah, dan haji.
Selain dua tokoh di atas, terdapat pula beberapa tokoh Syi’ah, di antaranya:
a.       Nashr bin Muhazim
b.      Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari
c.       Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi
d.      Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi
e.       Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar
f.        Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi
g.       Ali bin Babawaeh al-Qomi
h.       Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini
i.         Ibn ‘Aqil al-‘Ummani
j.        Muhammad bin Hamam al-Iskafi
k.      Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi
l.         Ibn Qawlawaeh al-Qomi
m.     Ayatullah Ruhullah Khomeini
n.       Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i
o.      Sayyid Husseyn Fadhlullah
p.      Murtadha Muthahhari
q.      ‘Ali Syari’ati




Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Doktrin-doktrin yang diyakini para pengikut Syi’ah secara garis besar ada 11 macam, yaitu konsepsi tentang Ahlulbait, al-badâ’, asyura, imamah, ‘ishmah, mahdawiyah, marjâ’iyah atau wilâyah al-faqîh, raj’ah, taqiyah, tawassul, dan tawallî dan tabarrî yang dalam banyak hal memiliki perbedaan (pemahaman) dengan kalangan Sunni. Dalam Syi’ah terdapat berbagai macam sekte/kelompok yang memiliki perbedaan satu sama lain dalam memandang ajaran-ajaran seperti tertulis di atas.
Syiah terbagi kedalam banyak sekte, namun yang paling memiliki pengaruh besar yaitu;
1.      Syiah itsna asyariyah/ syiah imamiyah.
2.      Syiah sab’iyah.
3.      Syiah zaidiyah.
4.      Syiah ghulat.
Ke empat sekte diatas terbagi lagi kepada beberapa aliran-aliran.
Ajaran pokok syiah yaitu ;
1.      Itsna asyariyah; tauhid, keadilan, ma’ad,nubuwwat, imamah.
2.      Sab’iyah; Iman, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah; iman kepada surga; iman kepada neraka; iman kepada hari kebangkitan; iman kepada hari pengadilan; iman kepada Nabi dan Rasul; iman kepada imam; percaya, mengetahui, dan membenarkan imam zaman.
3.      Zaidiyah; pertama, ia merupakan keturunan Ali atau Ahlul bait baik melalui jalur hasan maupun Husain. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang ,memiliki kecenderungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan
4.      Ghulat; bada’,taqiyah, raja’ah, hulul, gyba.
5.      Tokoh syiah; Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin ‘Ali, Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq.Abdullah bin saba’.





           
                   














DAFTAR PUSTAKA
M.H Thabathaba’i, islam Syi’ah, asal-usul dan perkembangannya,terj. Djohan Efendi. PT. Grafiti Press, Jakarta, 1989.
Abu Zahrah Muhammad, Aliran politik dan Aqidah dalam islam, terj. Abd.Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, logos, Jakarta, 1996.
Nasution Harun, ensiklopedia islam Indonesia, penerbit djambatan, Jakarta, 1992.
                                               





[1] M.H Thabathaba’i, islam Syi’ah, asal-usul dan perkembangannya,terj. Djohan Efendi. PT. Grafiti Press, Jakarta, 1989,hlm. 37.
[2] Muhammad Abu Zahrah, Aliran politik dan Aqidah dalam islam, terj. Abd.Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, logos, Jakarta, 1996, hlm.34.
[3] Harun nasution, ensiklopedia islam Indonesia, penerbit djambatan, Jakarta, 1992, hlm.904.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar